Al-Qur’an dan Sains: Bukti Kebenaran yang Terungkap Zaman ke Zaman

Al-Qur’an bukan hanya kitab suci umat Islam. Ia juga merupakan sumber ilmu yang tak lekang oleh waktu. Sejak diturunkan lebih dari 1.400 tahun lalu, banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang kini terbukti secara ilmiah.

Dulu, banyak orang menganggap ayat-ayat tentang alam hanyalah simbol. Namun seiring kemajuan ilmu pengetahuan, para ilmuwan mulai menyadari bahwa Al-Qur’an menyimpan fakta yang luar biasa.

Salah satu contohnya adalah penciptaan manusia. Dalam Surat Al-Mu’minun ayat 12–14, Allah menjelaskan proses pembentukan manusia dari setetes air hingga menjadi janin sempurna. Sains modern membuktikan bahwa tahapan tersebut sesuai dengan perkembangan embrio yang diteliti dengan teknologi terkini.

Begitu pula tentang alam semesta. Dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 47, Allah menyatakan bahwa langit terus mengembang. Penemuan Edwin Hubble di abad ke-20 membuktikan hal ini: alam semesta memang terus meluas. Ini membuktikan bahwa Al-Qur’an jauh lebih maju dari zaman turunnya.

Bahkan tentang laut dalam, Al-Qur’an juga memberi isyarat yang dulu tidak bisa dijelaskan. Dalam Surat An-Nur ayat 40, Allah menyebutkan tentang kedalaman laut yang gelap, berlapis-lapis, dan tidak tersentuh cahaya. Kini, ilmu kelautan menunjukkan bahwa pada kedalaman tertentu, cahaya matahari memang tidak bisa menembus. Di zaman Rasulullah, teknologi untuk menyelam sedalam itu belum ada.

Fenomena hujan pun dijelaskan dalam Surat Ar-Rum ayat 48. Allah mengatur angin, membentuk awan, dan menurunkan hujan di tempat yang Dia kehendaki. Ini sesuai dengan konsep pembentukan awan kumulonimbus yang dipelajari dalam meteorologi modern.

Ayat-ayat semacam ini bukan sekadar pengetahuan. Tapi bukti bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah, bukan buatan manusia. Tidak ada kitab suci lain yang memuat fakta ilmiah dengan presisi seperti itu, dan tetap relevan hingga kini.

Rasulullah ﷺ adalah seorang ummi—beliau tidak bisa membaca dan menulis. Namun, beliau menyampaikan wahyu yang mengandung sains tingkat tinggi. Ini menjadi bukti kuat bahwa Al-Qur’an datang dari sumber yang Maha Tahu.

Namun, penting untuk diingat bahwa Al-Qur’an bukan buku sains. Ia adalah kitab petunjuk. Ilmu pengetahuan hanya salah satu cara untuk memahami kebesaran Allah. Ketika sains menemukan sesuatu yang sudah disebut dalam Al-Qur’an, itu bukan kebetulan. Itu tanda bahwa ilmu dan wahyu berjalan sejalan.

Allah menyuruh manusia untuk berpikir. Dalam banyak ayat, kita diperintahkan untuk melihat langit, bumi, dan penciptaan manusia. Semua itu agar kita merenung dan semakin yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dalam Surat Fussilat ayat 53, Allah berfirman:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.”

Ayat ini menunjukkan bahwa semakin ilmu berkembang, semakin banyak kebenaran Al-Qur’an yang terungkap. Dan itu akan terus terjadi, seiring waktu.

Kita hidup di era di mana pengetahuan berkembang cepat. Namun, jangan sampai itu membuat kita sombong. Justru, temuan-temuan ilmiah seharusnya makin mendekatkan kita pada Sang Pencipta.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar informasi. Tapi cahaya yang menuntun hati. Maka dari itu, membaca dan memahami Al-Qur’an bukan hanya tugas ibadah, tapi juga bekal hidup di dunia dan akhirat.

Jika sains hari ini bisa membuktikan isi Al-Qur’an, maka tidak ada alasan lagi untuk ragu. Wahyu yang turun berabad-abad lalu masih relevan dan akurat hingga sekarang. Dan itu hanya bisa berasal dari Allah Yang Maha Benar.