Apakah kamu pernah merasa harta terus berkurang meski sudah bekerja keras siang dan malam? Atau justru kamu melihat ada orang yang hartanya terlihat sedikit, namun hidupnya selalu cukup, bahkan bisa berbagi? Inilah yang sering tidak disadari banyak orang: ada rahasia harta takpernah habis yang tersembunyi dalam cara kita memperolehnya dan membelanjakannya.
Sebagian orang meyakini bahwa semakin keras bekerja, maka akan semakin banyak pula harta yang didapat. Tapi kenyataannya, tidak selalu demikian. Ada yang sudah bekerja puluhan tahun, namun masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Sementara ada juga yang hidup dengan tenang, sederhana, namun segala kebutuhannya terasa selalu tercukupi. Ada rahasia besar di balik fenomena ini. Bukan soal banyak atau sedikit, melainkan tentang keberkahan.
Allah berfirman:
“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.” (QS. At-Talaq: 2-3)
Ayat ini adalah pintu pembuka dari rahasia harta takpernah habis. Rezeki bukan semata soal logika matematika, tetapi tentang hubungan spiritual antara hamba dan Tuhannya. Takwa dan tawakal membuka jalan-jalan rezeki yang tak terduga. Bahkan dalam banyak kisah para ulama terdahulu, ada yang tidak memiliki pekerjaan tetap, namun hartanya tidak pernah habis karena sifat qanaah dan keberkahannya.
Namun tak semua orang meraih keberuntungan ini. Ada yang justru semakin banyak hartanya, tetapi semakin gelisah. Semakin bertambah penghasilannya, semakin besar pula pengeluarannya. Ada kekosongan batin yang tidak bisa ditutupi oleh limpahan materi. Inilah sisi lain dari rahasia harta takpernah habis: bahwa harta yang diberkahi akan cukup, sedangkan harta yang dicabut keberkahannya akan lenyap tanpa makna.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Tidak akan berkurang harta karena sedekah.” (HR. Muslim)
Hadis ini menjadi fondasi spiritual dari konsep keberkahan dalam Islam. Secara kasat mata, memberi berarti mengurangi. Tapi dalam pandangan langit, memberi justru membuka pintu tambahan. Banyak orang takut bersedekah karena khawatir kekurangan. Mereka lupa, bahwa yang memberi rezeki bukan pekerjaan, bukan atasan, bukan sistem keuangan—melainkan Allah langsung.
Rahasia lain dari harta takpernah habis adalah bersihnya cara memperoleh. Harta yang diperoleh dengan cara haram, walaupun banyak, tidak akan membawa ketenangan. Justru akan menambah kegelisahan dan keburukan. Imam Al-Ghazali pernah berkata:
“Harta yang haram ibarat api yang membakar rumah iman. Ia tampak besar, namun menghancurkan dari dalam.”
Betapa sering kita menyaksikan orang kaya yang tak bahagia. Rumahnya besar, mobilnya mewah, tetapi tak pernah damai. Itu karena hartanya tidak tumbuh dari doa dan usaha yang halal. Sebaliknya, orang yang menjaga kejujuran dan integritas, meskipun hasilnya tidak seberapa, tapi hartanya terasa seperti tak habis. Rahasianya adalah kejujuran dan keberkahan.
Salah satu bentuk nyata dari keberkahan adalah kemampuan untuk merasa cukup. Orang yang tahu bagaimana menggunakan hartanya dengan bijak, tidak boros, dan selalu mengutamakan kebutuhan daripada keinginan, akan merasakan bahwa hartanya seakan selalu tersedia. Walau tanpa angka besar, tetapi cukup untuk kebutuhan hidup, cukup untuk berbagi, dan cukup untuk menenangkan hati. Bukankah itu yang dicari semua orang?
Namun sisi gelapnya, ada pula orang yang gila harta. Semakin punya, semakin rakus. Semakin kaya, semakin pelit. Ia takut kehabisan, padahal justru itulah yang membuat hartanya sempit. Tidak ada berkah dalam ketamakan. Seperti firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan kepada mereka, Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir azab yang menghinakan.” (QS. An-Nisa: 37)
Ayat ini menggambarkan bahwa salah satu penyebab harta menjadi musnah adalah sifat kikir. Bukan hanya membuat harta tidak berkembang, tetapi juga mengundang murka Allah. Maka, penting untuk kita pahami, bahwa berbagi bukan hanya soal sosial, tapi juga spiritual. Semakin kita memberi, semakin hati kita bersih dari ketergantungan dunia.
Rahasia dari harta takpernah habis juga tersembunyi dalam rasa syukur. Ketika seseorang bersyukur, maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya. Tapi ketika kufur, maka azab-Nya sangat pedih. Syukur bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam sikap dan tindakan. Seorang hamba yang bersyukur akan menjaga hartanya, menggunakannya di jalan yang diridhai, dan tidak sombong dengan apa yang dimiliki.
Maka, siapa pun kamu, berapa pun hartamu, jangan hanya mengukur kekayaan dengan jumlah. Ukurlah dengan seberapa jauh harta itu membawa kebahagiaan, ketenangan, dan keberkahan dalam hidupmu. Karena sejatinya, rahasia harta takpernah habis bukan terletak pada banyaknya, tapi pada siapa yang memegangnya, dan bagaimana ia menggunakannya.