Gelisah. Sebuah rasa yang muncul tiba-tiba, tanpa sebab yang jelas. Hati terasa berat, pikiran kalut, dan dunia seolah tak lagi menyenangkan. Banyak orang merasakannya, namun sedikit yang menyadari bahwa gelisah bisa jadi bukan hanya masalah mental, tapi juga isyarat spiritual. Kenapa hati bisa gelisah? Inilah tanda jauh dari Allah yang sering tak disadari.
Dalam Al-Qur’an, Allah dengan tegas menyampaikan:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini tidak sekadar menenangkan, tapi juga menunjukkan solusi. Jika hati tidak tenteram, maka bisa jadi karena ia telah jauh dari dzikir, jauh dari sujud, jauh dari Allah. Hati yang gelisah ibarat tubuh yang kehilangan oksigen—ia lemah, mudah goyah, dan penuh luka yang tak terlihat.
Dalam kehidupan modern, banyak orang mencoba mengobati kegelisahan dengan pelarian duniawi: musik, hiburan, scroll media sosial berjam-jam. Tapi tetap saja, hati tak kunjung tenang. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Di dunia ini tidak ada siksaan yang lebih pedih dibanding hati yang jauh dari Allah.”
Ucapan ini menyentuh sekali. Karena gelisah bukan hanya tentang tekanan hidup, tapi juga tanda bahwa jiwa kehilangan arah. Dan lebih menyedihkan lagi, saat banyak orang tidak sadar bahwa rasa cemas yang menghimpit itu adalah isyarat bahwa ruh sedang kelaparan karena tak diberi asupan iman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.”
(HR. Tirmidzi)
Namun, gelisah karena ujian berbeda dengan gelisah karena jauh dari Allah. Yang pertama mendekatkan, yang kedua justru menjauhkan. Saat kegelisahan menjadikanmu malas ibadah, enggan berdoa, dan semakin larut dalam pelarian, maka itulah tanda yang harus diwaspadai.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:
“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka akan muncul satu titik hitam di hatinya. Jika dia bertaubat, maka titik itu dihapus. Tapi jika tidak, maka titik itu akan bertambah hingga menutupi hatinya.”
(HR. Tirmidzi)
Titik hitam itu adalah alasan kenapa hati bisa gelisah meski segala keinginan dunia terpenuhi. Kekayaan, popularitas, dan cinta manusia tidak bisa menggantikan satu hal: ketenangan dari Allah. Saat hati gelisah di tengah keramaian, bisa jadi itu karena cinta kepada Allah telah menipis, dan ruh sedang rindu kepada-Nya.
Ketika kamu bertanya kenapa hatimu gelisah, tanyakan juga kapan terakhir kali kamu membaca Al-Qur’an dengan air mata, atau bersujud tanpa tergesa. Karena ketenangan tidak datang dari luar, tapi dari hati yang bersih, jiwa yang yakin, dan cinta kepada Allah yang terus dijaga.